Senin, Februari 18

TEORI KEPRIBADIAN BEHAVIORISME ( sem 5 Reguler)



PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
Dosen Pengampu: Teni Nurrita, M. Pd.
Tentang:
TEORI KEPRIBADIAN BEHAVIORISME
A.   TEORI B. F. SKINNER
B.   TEORI I. P. PAVLOV
OlehKelompok 3:
1.      LAILATUN SYARIFAH
2.      REGINA AGUSTIN
3.      SITI ANIDA
4.      YULIA CITRA


FAKULTAS TARBIYAH PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AZ-ZIYADAH JAKARTA
2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah AWT. yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya, sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada ilahi rabbi yang telah memberikan Hidayah dan Taufik-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Dengan tersusunnya makalah ini, kami harap dapat dipahami secara mendalam tentang “Teknologi Pendidikan dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya.
Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah Psikologi Kepribadian, Ibu Teni Nurrita, M. Pd. semoga Allah SWT. senantiasa meridhoi segala usaha kita semua. Aamiin

Jakarta, 03 November 2018




DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......................................................................................................................... i
Daftar Isi .................................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
A.    Latar Belakang ............................................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah ........................................................................................................ 1
C.     Tujuan Pembahasan ...................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................... 2
A.    Biografi singkat B. F. Skinner ...................................................................................... 2
B.     Manusia dalam pandangan B. F. Skinner ..................................................................... 3
C.     Konsep utama Behaviorisme ........................................................................................ 3
D.    Penerapan Behaviorisme dalam konseling ................................................................... 5
E.     Asumsi dasar ................................................................................................................ 7
F.      Biografi singkat I. P. Pavlov ........................................................................................ 8
G.    Eksperimen Pavlov ....................................................................................................... 9
BAB III PENUTUP ................................................................................................................ 14
Kesimpulan ............................................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 15







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kekuatan yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap ilmu psikologi adalah Behaviorisme. Konsep-konsep yang dikembangkan dalam Behaviorisme sangat berbeda dengan yang lainnya. Behaviorisme sangat menekankan perilaku yang dilihat dan dapat diukur.
Pada awalnya, konsep behaviorisme didasarkan atas penelitian yang dilakukan oleh Pavlov yang terkenal dengan teorinya pengondisian klasik (classical conditioning). Behaviorisme atau teori belajar adalah aliran psikologi yang populer, dan hingga saat ini digunakan dalam berbagai upaya pengubahan tingkah laku, termasuk dalam kegiatan pembelajaran formal.
Dalam makalah ini pembahasan mengenai Behaviorisme akan memfokuskan pada teori yang dikembangkan oleh B. F. Skinner dan I. P. Pavlov.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pandangan B. F. Skinner mengenai Manusia?
2.      Apa konsep utama Behaviorisme menurut B. F. Skinner?
3.      Bagaimana penerapan Behaviorisme dalam konseling?
4.      Apa saja tiga asumsi dasar menurut Skinner?
5.      Bagaimana Eksperimen Pavlov tentang Behavioisme?

C.    Tujuan Pembahasan
Untuk mengetahui dan memahami tentang pandangan B. F. Skinner mengenai Manusia.
Untuk mengetahui dan memahami tentang konsep utama Behaviorisme menurut B. F. Skinner.
Untuk mengetahui dan memahami tentang penerapan Behaviorisme dalam konseling.
Untuk mengetahui dan memahami tentang tiga asumsi dasar menurut Skinner.
Untuk mengetahui dan memahami tentang Eksperimen Pavlov tentang Behaviorisme.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Biografi Singkat B. F. Skinner
Burrhus Frederic Skinner lahir 20 Maret 1904, di kota kecil Susquehanna, Pennsylvania. Ayahnya adalah seorang pengacara, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga.[1]
Ia dibesarkan dalam lingkungan Kristen Ortodoks yang biasa bekerja keras.Ia pernah mencoba mengirim beberapa puisi dan cerita pendek ke berbagai surat kabar. Ketika lulus kuliah, dia membangun tempat untuk belajar di loteng supaya dapat berkonsentrasi menulis.
Setelah kegiatan menulis artikel di koran mengenai masalah buruh dia tinggal dan bekerja untuk sementara di Greenwich Village, New York City sebagai “Bohemian”. Setelah mengikuti beberapa perjalanan, ia memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan, dan kuliah di Harvard untuk mendapatkan gelar master di bidang psikolog pada tahun 1930, kemudian gelar doktor pada tahun 1931. Di Harvard ia melakukan riset sampai tahun 1936. Pada tahun yang sama, ia pindah ke Minnerapolis untuk mengajar di University of Minnesota. Disana, ia bertemu Yvonne Blue dan kemudian menikah. Mereka mempunyai dua anak perempuan. Anak kedua terkenal sebagai bayi pertama yang dibesarkan dalam airbox, salah satu penemuan Skinner, sebuah kotak bermain dengan sisi kaca dan pendingin ruangan, bentuknya mirip akuarium.
Pada tahun 1945, Skinner menjadi ketua jurusan psikologi di Indiana University kemudian kembali ke Harvard pada tahun 1948 dan menghabiskan sisa hidupnya. Skinner sangat aktif melakukan riset dan membimbing kandidat doktor, serta menulis ratusan buku. Meskipun tidak menjadi penulis fiksi dan puisi yang sukses, ia menjadi salah satu penulis psikologi terbaik. Buku Walden II yang ditulisnya meruoakan salah satu buku yang terkenal, berisi kisah fiksi sebuah komunitas yang menjalankan prinsip-prinsip behaviorisme.
18 Agustus 1990, B. F. Skinner meninggal dunia karena Leukemia. Ia adalah salah seorang yang sangat terkenal dalam bidang psikologi dan mungkin setenar Sigmund Freud. [2]

B.     Manusia dalam pandangan B. F. Skinner
Fokus utama dalam dalam konsep Behaviorisme adalah perilaku yang terlihat dan penyebab luar yang menstimulasinya. Skinner menekankan pentingnya kontrol terhadap perilaku. Menurutnya, “Jika ilmu pengetahuan dapat menyediakan cara untuk mengontrol perilaku, kita dapat memastikan dan mengidentifikasi penyebabnya”. Sifat dan faktor penentu internal lain yang memprediksi dan menjelaskan perilaku bukanlah mengontrol.
Behaviorisme memandang manusia sangat mekanistik, karena menganalogikan manusia seperti mesin. Konsep mengenai stimulus – respon seolah-olah menyatakan bahwa manusia akan bergerak atau melakukan sesuatu apabila ada stimulasi. [3]

C.    Konsep Utama Behaviorisme
Bagi Skinner, istilah “Kepribadian” tidak ada, yang ada adalah perilaku, perilaku sepenuhnya dapat dipahami karena merupakan tanggapan terhadap faktor-faktor dari lingkungan. Skinner menyarankan agar kita berkonsentrasi pada konsekeunsi lingkungan yang menentukan dan mempertahankan perilaku individu. Hal ini berarti tidak perlu untuk menempatkan kekuatan internal atau motivasi dalam diri seseorang sebagai faktor penyebab perilaku. Skinner tidak menyangkal bahwa kondisi seperti itu terjadi sebagai produk perilaku. Tetapi, baginya tidak ada gunanya menggunakan kepribadian sebagai variabel sebab – akibat karena tidak dapat didefinisikan secara operasional dan intensitasnya tidak dapat diukur. [4]
1.      Pengembangan Perilaku melalui belajar
Skinner membuat definisi yang sangat sederhana mengenai penguatan. Sesuatu yang memperkuat menurutnya adalah segala sesuatu yang meningkatkan kemungkinan kemunculan perilaku tertentu. Jika seorang anak kecil menangis atau merengek, ia berharap akan mendapat perhatian dari orang tuanya. Apabila cara tersebut berhasil, maka ia mendapat penguatan sehingga anak akan mengulang kembali pola perilaku tersebut. Akan tetapi, jika tidak mendapat penguatan, artinya tangisan atau rengekannya diabaikan atau tidak mendapat perhatian, maka pola perilaku tersebut akan berhenti dan anak akan mengembangkan pola perilaku lain supaya mendapatkan penguatan.
2.      Penguatan Instrumental
Skinner (1938) membedakan dua jenis perilaku, yaitu responden dan instrumental. Perilaku responden mengacu pada refleks atau respon otomatis yang muncul karena adanya rangsangan. Perilaku responden dapat diubah melalui pembelajaran. Perilaku responden dapat kita lihat pada demonstrasi dalam pengondisian klasik Pavlov. Anjing Pavlov mengeluarkan air liur karena proses belajar melalui bunyi lonceng. Bayi belajar mengisap puting ini adalah refleks atau respon otomatis. Bayi melakukannya karena stimulus netral yang ada sebelumnya melalui proses asosiasi.
Skinner percaya bahwa proses pengondisian instrumental jauh lebih penting daripada pengondisian klasik sederhana. Banyak perilaku yang tidak dapat diperhitungkan dalam pengondisian klasik. Sebaiknya, perilaku spontan memiliki konsekuensi dalam frekuensi perilaku berikutnya.
Perbedaan utama antara perilaku spontan dan perilaku instrumental adalah terletak pada sumber stimulus. Perilaku responsif terjadi karena adanya stimulus, sementara perilaku instrumental muncul secara bebas yang dibuat oleh organisme yang bersangkutan. Sifat penguatan juga berbeda dengan pengondisian klasik, yang stimulus yang menjadi penguatannya muncul mendahului perilaku. Dengan demikian, instrumental reinfocement dapat mengendalikan perilaku.
3.      Pembentukan (Shaping)
Skinner memperkenalkan Shaping atau metode aproksimiasi. Metode ini merupakan cara untuk menguatkan suatu perilaku, misalnya pada orang yang mengalami fobia terhadap hewan tertentu akan diterapi dengan metode aproksimiasi. Tahap awal metode ini adalah dengan menempatkan hewan yang ditakuti pada jarak tertentu, secara bertahap diletakan lebih dekat, selanjutnya dibuat variasi dengan menempatkannya lebih dekat lagi.
4.      Rangsangan Permusuhan
Stimulus permusuhan adalah kebalikan dari stimulus yang memperkuat. Ia merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan atau menyakitkan. Stimulus permusuhan digambarkan sebagai bentuk pengondisian yang dikenal sebagai hukuman. Perilaku diikuti dengan penghapusan suatu hasil rangsangan permusuhan dalam kemungkinan peningkatan perilaku yang terjadi di masa depan. Perhatikan betapa sulitnya membedakan bentuk–bentuk penguatan negatif dibandingkan dengan penguatan positif.
Skinner tidak menyetujui penggunaan rangsangan permusuhan, bukan karena erika, tetapi karena mereka tidak bekerja dengan baik. [5]

D.    Penerapan Behaviorisme dalam Konseling
Beberapa prinsip pengubahan tingkah laku yang dikembangkan Skinner diaplikasikan dalam pelaksanaan konseling. Bentuk aplikasi tersebut sebagai berikut:
1.      Modifikasi Perilaku
Modifikasi perilaku sering disebut sebagai b-mod, yaitu teknik terapi berdasarkan teori skinner. Caranya adalah dengan memadamkan perilaku yang tidak diinginkan (dengan menghapus reinforcer) dan menggantinya dengan perilaku yang diinginkan melalui penguatan. Teknik ini digunakan pada berbagai macam gangguan psikologis, seperti kecanduan obat-obatan, neurosis, rasa malu, autisme, bahkan skizofrenia, dan ternyata hasilnya sangat baik terutama untuk anak-anak.
2.      Pembanjiran (Flooding)
Flooding harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena reaksi emosi yang sangat tinggi bisa menimbulkan akibat yang membahayakan. Untuk penderita gangguan jantung, flooding bisa berakibat fatal, meskipun dampaknya sangat luar biasa. Penderita fobia ketinggian dapat disembuhkan dengan memaksanya naik lift dan berjalan-jalan di atap gedung bertingkat. Penjenuhan (satiation) adalah varian flooding yang dipakai seseorang untuk mengontrol tingkah lakunya sendiri (self control).
3.      Terapi Aversi
Pada kontrol diri, pelaksanaan terapi dapat dilakukan oleh individu sendiri. Sedangkan pada Terapi Aversi, pengaturan kondisi aversi diciptakan oleh terapis.
4.      Pemberian Reward / Punishment secara selektif
Strategi terapi ini untuk memperbaiki tingkah laku anak dengan melibatkan figur di sekeliling anak sehari-hari, khususnya orang tua dan guru. Terapis meneliti klien dalam situasi yang alamiah, bekerjasama dengan orang tua dan guru untuk memberi hadiah ketika anak melakukan tingkah laku yang dikehendaki, dan menghukum apabila muncul tingkah laku yang tidak dikehendaki. Bentuk hadiah atau hukuman yang diberikan sebelumnya direncanakan secara teliti dan dipilih karena memberikan dampak yang paling efektif.
5.      Latihan Keterampilan Sosial
Teknik ini banyak dipakai untuk membantu penderita depresi. Teori depresi yang populer memandang depresi sebagai akibat dari perasaan tidak mendapat hadiah (perhatian) dari lingkungan, mungkin karena tidak memiliki keterampilan untuk memperolehnya. Kepada penderita diajarkan teknik-teknik khusus dalam berinteraksi sosial. 
6.      Kartu Berharga (Token Economic)
Strategi kartu berharga pada dasarnya memakai prinsip premack: “Kumpulkan kartu dulu, nanti (sesudah jumlahnya cukup) kamu boleh / mendapat......”.Teknik ini sering digunakan di lembaga-lembaga, seperti rumah sakit jiwa, aula remaja, dan penjara. Aturan-aturan tertentu yang dibuat secara eksplisit dalam lembaga dan setiap perilaku yang sesuai akan dihargai dengan token, seperti: poker chips, tiket, uang.
Kelemahan dari token ekonomi terutama untuk pengubahan tingkah laku orang yang di penjara: ketika narapidana kembali ke masyarakat, mereka tidak lagi mendapatkan penguat perilaku seperti yang biasa mereka terima. Sementara untuk pasien psikosis mungkin akan tetap dilakukan oleh keluarga. [6]
Dengan demikian, dapat disimpulkan yang utama dalam konsep Behaviorisme adalah perilaku yang terlibat dari penyebab luar yang menstimulasinya. Skinner menekankan sangat penting untuk mengontrol perilaku. Behaviorisme memandang manusia sebagai mekanistik dengan menganalogikan manusia seperti mesin. Behaviorisme akan menentukan variabel atau kekuatan dari lingkungan yang mempengaruhi perilaku atas konsekuensi yang akan muncul. Sebuah perilaku berkembang melalui belajar dari lingkungan dan mendapat penguatan, baik spontan maupun instrumental.  

E.     Asumsi Dasar
Skinner bekerja dengan tiga asumsi dasar, dimana asumsi pertama dan kedua pada dasarnya menjadi asumsi psikologi pada umumnya, bahkan merupakan asumsi semua pendekatan ilmiah.
1.      Tingkah laku itu mengikuti hukum tertentu (Behavior is lawful). Ilmu adalah usaha untuk menemukan keteraturan, menunjukan bahwa peristiwa tertentu berhubungan secara teratur dengan peristiwa lain.
2.      Tingkah laku dapat diramalkan (Behavior can be predicted). Ilmu bukan hanya menjelaskan, tetapi juga meramalkan. Bukan hanya menangani peristiwa masa lalu tetapi juga masa yang akan datang. Teori yang berdaya guna adalah yang memungkinkan dapat dilakukannya prediksi mengenai tingkah laku yang akan datang dan menguji prediksi itu.
3.      Tingkah laku dapat di kontrol (Behavior can be controlled). Ilmu dapat melakukan antisipasi dan menentukan atau membentuk (sedikit-banyak) tingkah laku seseorang. [7]
Ada dua klasifikasi tipe tingkah laku:
a.       Tingkah laku Responden (Respondent Behavior); respon yang dihasilkan (elicited) organisme untuk menjawab stimulus yang secara spesifik berhubungan dengan respon.
b.      Tingkah laku Operan (Operant Behavior); respon yang dimunculkan (emitted) organisme tanpa adanya stimulus spesifik yang langsung memaksa terjadinya respon itu. [8]
Dalam memanipulasi tingkah laku, yang penting bukan hanya wujud dari reinforsemennya tetapi juga bagaimana pengaturan pemberiannya. Reinforsemen yang diadministrasi dengan cemat memungkinkan kita untuk membentuk tingkah laku.
1)      Penguat Berkelanjutan (Continuous reinforcement); setiap kali muncul tingkah laku yang dikehendaki diberikan reinforsemen. Kalau reinforsemen dihentikan, tingkah laku yang dikehendaki itu dengan cepat mengalami ekstinsi dan hilang. Pemberian penguat dapat diatur, tidak continue tetapi selang-seling, berselang berdasarkan waktu (interval) atau berdasarkan perbandingan (ratio).
2)      Interval tetap (Fixed interval); adalah pemberian reinforsemen berselang teratur, misalnya setiap 5 menit. Patukan pada menit yang kelima baru mendapat makanan. Akibatnya, Merpati lama-lama enggan mematuk sesudah mendapat makanan, dan baru mematuk sesudah mendekati waktu 5 menit.
3)      Interval berubah (Variable interval); memberi reinformasi dalam waktu yang tidak tentu, tetapi jumlah atau rata-rata penguat yang diberikan sama dengan pengaturan tetap.
4)      Perbandingan tetap (Fixed ratio); mengatur pemberian reforsemen sesudah respon yang dikehendaki muncul yang kesekian kalinya. Merpati mendapat makanan pada (usaha) patukan yang ke sepuluh, atau ke dua belas, dan seterusnya.
5)      Perbandingan berubah (Variable ratio); memberikan reinforsemen secara acak sesudah 8, 9, 10, 11, 12, kali patukan, dengan rata-rata saa dengan fixed ratio. Ekstinsi pada rasio, terutama rasio variabel paling lambat terjadi. [9]

F.     Biografi singkat I. P. Pavlov
Ivan Petrovich Pavlov dilahirkan pada tanggal 14 September 1849 di Ryazan, tempat ayahnya, Peter Dmitrich Pavlov bekerja.Keluarganya mengharapkannya menjadi pendeta seperti ayahnya sehingga ia bersekolah di sekolah gereja di Ryazan. Terinspirasi oleh ide-ide progresif yang dikemukakan oleh para kritikus sastra Rusia tahun 1860-an Pavlov meninggalkan karir agama dan memutuskan untuk mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. 
Pada tahun 1870 ia masuk dalam fakultas matematika dan fisika untuk mengambil kursus dalam ilmu alam. Program pertama yang ia hasilkan bersama dengan rekannya Afanasyev yaitu sebuah karya tentang fisiologi saraf pankreas. Karya ini secara luas diakui dan dia dianugerahi medali emas saat itu. 
Pada tahun 1875 ia menerima gelar calon ilmu pengetahuan alam, tetapi ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Akademi Medis Operasi, dan menyelesaikan studinya pada tahun 1879 dan kembali mendapatkan medali emas. Setelah pemeriksaan kompetitif, Pavlov memenangkan beasiswa di Akademi, dan mendapatkan posisinya sebagai Direktur Laboratorium Fisiologis di salah satu klinik terkenal di Rusia, pada tahun 1883 ia menyajikan tesis dokternya yaitu “Persarafan sentrifugal dari jantung”. Pada 1890 Pavlov diundang untuk mengatur dan mengarahkan Departemen Fisiologi di Institute of Experimental Medicine dan iadiangkat sebagai profesor Farmakologi di Akademi Medis Militer.
Setelah itu, pada tahun 1891-1900 Pavlov melakukan sebagian besar penelitian tentang fisiologi pencernaan. Pavlov merupakan seorang ilmuwan yang penuh dedikasi, yang terobsesi dengan penelitiannya. [10]

G.    Eksperimen Pavlov
Pavlov menemukan bahwa ia dapat menggunakan stimulus netral, seperti sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku (respons). Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu.Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang di inginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.


Eksperimen Pavlov:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4JzPBMLKqsPZMlIPMK81sYWw8bCrmZDsdVg5K83tQKTwbyuwtSN8R3I2ZJK2qL7nuBG2Dk_kAhBX6_9r1Wb2H8GNTvxGmgfIQlec_Y6C5xrn7AGcDTuIy14FkJ07zTXtQtwQDo8qnwLMy/s400/classical-conditioning.jpg
Berikut adalah tahap-tahap eksperimen dan penjelasan dari gambar diatas:
1.      Gambar pertama.
Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).
2.      Gambar kedua.
Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau mengeluarkan air liur.
3.      Gambar ketiga.
Sehingga dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan.
4.      Gambar keempat.
Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).
Dalam ekperimen ini bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing agar ketika bunyi bel di berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur walapun tanpa diberikan makanan. Karena pada awalnya (gambar 2) anjing tidak merespon apapun ketika mendengar bunyi bel.
Jika anjing secara terus menerus diberikan stimulus berupa bunyi bel dan kemudian mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Maka kemampuan stimulus terkondisi (bunyi bel) untuk menimbulkan respons (air liur) akan hilang. Hal ini disebut dengan extinction  atau penghapusan.

Pavlov mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses akuisisi dan penghapusan sebagai berikut:
a.       Stimulus tidak terkondisi (UCS), suatu peristiwa lingkungan yang melalui kemampuan bawaan dapat menimbulkan refleks organismik. Contoh: makanan.
b.      Stimulus terkondisi (CS), Suatu peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan dengan stimulus tak terkondisi (UCS). Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang di pasangkan dengan stimulus tidak terkondisi berupa makanan.
c.       Respons tidak terkondisi (UCR), refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau dengan sendirinya. Contoh: mengeluarkan air liur
d.      Respons terkondisi (CR), refleks yang dipelajari dan muncul akibat dari penggabungan CS dan US. Contoh: keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan makanan.
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses kondisioning (conditioning process) di mana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsangan-rangsangan tak berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsangan berkondisi. Dengan kata lain, gerakan-gerakan refleks itu dapat dipelajari, dapat berubah karena mendapat latihan. Sehingga dengan demikian dapat dibedakan dua macam refleks, yaitu refleks wajar (unconditioned refleks) keluar air liur ketika melihat makanan yang lezat, dan refleks bersyarat atau refleks yang dipelajari (conditioned refleks) keluar air liur karena menerima atau bereaksi terhadap suara bunyi tertentu.

Dalampercobaan di atas, kitadapatmendapatkan point – point pentingyaitu :
1)      Penguasaan (akuisisi), Penguasaanataubagaimanaorganismemempelajarisesuaturesponatauresponbaruberlakubeberapatingkatan. Jugasemakinseringorganismeitumencoba, lebihkuatpenguasaanberlaku.
2)      Generalisasi (generalitation), dalameksperimennya, Pavlov jugatelahmenggunakanlonceng yang berbeda nada, tetapianjingitumasihmengeluarkan air liur. Inimenunjukkanbahwasesuatuorganisme yang telahterlazimdengandikemukakansesuaturangsangantakterlazim (RTT sepertilonceng) jugaakanmenghasilkanresponterlazim (GT = keluar air liur) walau pun rangsanganituberbedaatauhampirsama (yaitu, nada lonceng yang berbeda). Dengan kata lain, organismeitudapatmembuatgeneralisasibahwasuara yang berbedaatauhampirsamamungkindiikutidenganrespon (makanan).
3)      Diskriminasi (Discrimination), Pavlov jugamendapatibahwaapabiladiamengubah nada lonceng, anjingitumasihmengeluarkan air liur. Bila nada loncengitujauhberbedadarilonceng yang asli, anjingtersebuttidakmengeluarkan air liur. Inimenunjukkanbahwaorganismetersebutdapatmembedakanataumendikriminasiantararangsangan yang dikemukakandanmemilihuntuktidakbertindakataubergerakbalas. Yaitu, sesuatuorganismemampuuntukbergerakbalaskesesuaturangsangantetapitidakkerangsangan yang lain.
4)      Penghapusan (Extinction), jikasesuaturangsanganterlazim (lonceng) tidakdiikutidenganrangsangantakterlazim (makanan), lama kelamaanorganismeitutidakakanmelakukanrespon.

Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
*      Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
*      Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
Demikianlah maka menurut teori conditioning belajar itu adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (response). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan-latihan yang continue (terus-menerus). [11]























BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas mengenai konsep dasar kepribadian Behaviorisme maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Fokus utama dalam konsep behaviorisme adalah perilaku yang terlihat dan penyebab luar yang menstimulasinya. Skinner menekankan pentingnya kontrol terhadap perilaku.
2.      Behaviorisme memandang manusia sangat mekanistik dengan menganalogikan manusia itu seperti mesin.
3.      Untuk menjelaskan bagaimana sebuah perilaku itu muncul, behaviorisme akan menentukan variabel atau kekuatan dari lingkungan yang mempengaruhi perilaku tertentu atas konsekuensi yang akan muncul. Faktor – faktor lingkungan dapat didefinisikan secara spesifik, dapat diukur, dan ditangani secara empiris.
4.      Sebuah perilaku berkembang melalui belajar dari lingkungan dan mendapatkan penguatan, baik spontan maupun instrumental.
5.      Beberapa prinsip pengubahan tingkah laku yang dikembangkan Skinner diaplikasikan dalam pelaksanaan konseling, yaitu: modifikasi perilaku, pembanjiran, terapi aversi, pemberian reward/punishment secara selektif, latihan keterampilan sosial, dan kartu berhaga (token economic).

Paradigma kondisioning klasik merupakan karya besar I. P. Pavlov, ilmuan Rusia, yang mengembangkan teori perilaku melalui percobaannya tentang anjing dan air liurnya. Proses yang ditemukan oleh Pavlov, diamana perangsang yang asli dan netral atau rangsangan biasanya secara berulang – ulang dipasangkan dengan unsur penguat, akan menyebabkan suatu reaksi. Perangsang netral tadi disebut perangsang bersyarat atau terkondisionir, yang disingkat dengan CS (Conditioned Stimulus). Penguatannya adalah perangsang tidak bersyarat, atau US (Unconditioned Stimulus). Reaksi alami (biasa) atau reaksi yang tidak dipelajari disebut  reaksi bersyarat atau CR (Conditioned Response).



DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Dede Rahmat. 2011. Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling. Bogor: Ghalia Indonesia.
Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.


[1] Dede Rahmat Hidayah, Teori dan Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), h. 125
[2]Ibid., h. 126
[3]Ibid., h. 126
[4]Ibid., h. 127
[5]Ibid., h. 128
[6]Ibid., h. 131
[7] Alwisol, Psikologi Kepribadian, (Malang: UMM Press, 2009), h. 320
[8]Ibid., h. 321
[9]Ibid., h. 327
[10] Bagus Putra Budiarto, “Teori Kepribadian Ivan Pavlov,” artikel diakses pada 5 November 2018 dari http://m-belajar.blogspot.com/2014/06/teori-kepribadian-ivan-pavlov.html
[11] Catatan Anak Konseling, “Teori Kepribadian Ivan Pavlov Classical Conditioning,” artikel diakses pada 5 November 2018 dari http://catatananakkonseling.blogspot.com/2017/04/teori-kepribadian-ivan-pavlov-classical.html

Tahapan Perkembangan ( sem 5 Reguler)



Tahapan Perkembangan
Tahapan Perkembangan Anak menurut Ahli Psikoanalisa Sigmund Freud
Sejak bayi hingga remaja, anak mengalami tahapan-tahapan perkembangan tertentu. Tahapan-tahapan ini dapat dilihat dari berbagai faktor maupun bidang ilmu.
Sigmund Freud, misalnya, membagi tahapan perkembangan anak berdasarkan kematangan fisiolokgis dari bagian tubuh tertentu. Freud yang merupakan seorang ahli psikoanalisa, menyebut tahapan-tahapan ini dengan istilah Fase Oedipal
Ada lima tahapan perkembangan yang dapat diamati dalam Fase Oedipal ini:
Fase Oral (0 sampai sekitar 1,5 tahun)
Pada fase ini daerah mulut merupakan pusat kepuasan yang diperoleh melalui berbagai kegiatan. Misalnya kegiatan mengisap atau menggigit yang dilakukan bayi. Melalui mulut, bayi melakukan kontak pertama dengan lingkungan.
Jadi, biarkan saja bila bayi memasukkan jari-jari atau mainannya ke mulut, Moms. Melalui kegiatan ini, ia tengah belajar banyak dan terus berkembang.
Anda juga tidak perlu memakaikan bayi sarung tangan yang justru akan menghalangi kebebasannya melakukan eksplorasi selama fase ini. Pastikan saja tangannya bersih dan Anda sudah menggunting kukunya sehingga tidak ada sudut yang tajam.
2. Fase Anal (1,5 sampai 3 atau 3,5 tahun)
Pusat kepuasan pada fase ini terletak pada daerah anus atau dubur. Anak mendapat kepuasan dengan cara menahan atau membuang kotoran menurut kemauannya sendiri. Melalui kegiatan ini, anak belajar tentang adanya kebebasan untuk menentukan sendiri kemauannya.
Karena itu, tahap ini merupakan saat yang tepat untuk Anda mengajarkan disiplin kepada anak agar ia tidak keliru mengartikan kebebasan.
3. Fase Phallic (3 sampai 5 tahun)
Pada fase ini, anak mulai menaruh perhatian kepada alat kelaminnya dan mulai menangkap perbedaan antara alat kelamin perempuan dan laki-laki. Anak mulai tertarik pada orang tua yang berlainan jenis kelamin dengan dirinya. Selain itu, anak mungkin akan menjadi senang memainkan kelaminnya.
Misalnya jelaskan pada anak cara membersihkan alat kelaminnya setelah buang air kecil dan ajarkan untuk tidak menggaruk alat kelaminnya agar tidak lecet dan luka maupun memasukkan benda apapun ke dalam alat kelaminnya.
Ajarkan juga anak untuk selalu menutup bagian kelaminnya dengan pakaian yang sopan dan beritahu anak nama sebenarnya untuk alat kelaminnya.
Kenalkan perbedaan diri anak dengan jenis kelamin lain sehubungan dengan identitas gender, bukan perbedaan peran gender.
4. Fase Laten (5 sampai 10 tahun)
Fase ini sering disebut sebagai 'masa tenang' karena anak tidak terlalu menaruh perhatian pada diri dan bagian tubuhnya. Karena anak mulai masuk sekolah, perhatian anak umumnya akan tercurah pada kegiatan belajar.
Selain itu, anak juga sedang sibuk belajar bersosialisasi, termasuk belajar membedakan benar dan salah hingga konsep hukuman dan pujian
5. Fase Genital (10 tahun sampai masa remaja)
Pada fase ini, terjadi kematangan alat seksual primer (organ reproduksi) dan alat seksual sekunder (payudara, bulu dada, kumis dan lain-lain). Hal ini menyebabkan meningkatnya dorongan seksual yang ditampilkan lewat ketertarikan terhadap lawan jenis.
Adapun makna perkembangan kepribadian menurut Freud adalah “Belajar tentang cara-cara baru untuk mereduksi ketegangan (tension reduction) dan memperoleh kepuasan”. Ketegangan itu terjadi bersumber kepada empat aspek yaitu:
1.    Pertumbuhan fisik. Seperti peristiwa menstruasi dan mimpi pertama dapat menimbulkan aspek psikologis dan juga ada tuntutan baru dari lingkungan (seperti dalam berpakaian dan bertingkah laku).
2.    Frustrasi. Orang yang tidak pernah frustasi tidak akan berkembang. Jika anak dimanja (over protection) tidak akan berkembang rasa tanggung jawab dan kemandiriannya.
3.    Konflik. Ini terjadi antara id, ego dan superego. Apabila individu dapat mengatasi setiap konflik yang terjadi di antara ketiga komponen kepribadian tersebut, maka dia akan mengalami perkembangan yang sehat.
4.    Ancaman. Lingkungan, di samping dapat memberikan kepuasan kepada kebutuhan atau dorongan instink individu, juga merupakan sumber ancaman baginya yang dapat menimbulkan ketegangan. Apabila individu dapat mengatasi ancaman yang dihadapinya, makan dia akan mengalami perkembangan yang diharapkan.
Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan kepribadian menurut Freud adalah kematangan. Kematangan menurutnya adalah pengaruh asli dari dalam diri. Sedangkan ketegangan dapat timbul karena empat aspek di atas dan upaya mengatasi ketegangan ini dilakukan individu dengan identifikasi, sublimasi dan mekanisme pertahanan ego
Perkembangan kepribadian berlangsung melalui tahapan-tahapan perkembangan psikoseksual yaitu tahapan periode perkembangan seksual yang sangat mempengaruhi kepribadian masa dewasa. Freud berpendapat bahwa perkembangan kepribadian manusia sebagian besar ditentukan oleh perkembangan seksualitasnya

Teori Kepribadian Islam ( sem 5 Reguler)



Teori Kepribadian Islam
Psikologi secara etimologi mengandung arti ilmu tentang jiwa.
 Dalam Islam kata jiwa di samakan dengan “an-Nafsu” namun ada juga yang menyamakan dengan istilah “ar-Ruh” seperti psikolog Zuardin Azzainu.
Tetapi istilah ini lebih populer dari istilah ar-Ruh, karena “Psikologi” dalam bahasa Arab lebih populer diterjemahkan dengan ilmu ”an-Nafsu” daripada ilmu ar-Ruh
Sukanto Mulyo Martono lebih khusus menyebutnya dengan istilah Nafsiologi.
Penggunaan isilah tersebut di sebabkan karna obyek kajian psikologi adalah an-Nafsu sebagai aspek psikofisik dari manusia.
Perlu dipahami bahwa istilah an-Nafsu berbeda dengan term soul dan psyche dalam psikolgi kontemporer barat.
an-Nafsu adalah gabungan antara substansi jasmani dan rohani, sedangkan soul dan psychi hanya berkaitan dengan aspek psikis manusia (Abdul Mujib dan Yusuf Muzakkir: 2001;4).
Definisi psikologi Islam menurut para psikolog muslim:
Psikologi Islam adalah ilmu yang berbicara tentang manusia, terutama masalah kepribadian manusia, yang bersifat filsafat, teori, metodologi dan pendekatan problem dengan didasari sumber-sumber formal Islam (Al-Qur’an dan Al-hadits) dan akal, indra dan intuisi (Jamaluddin Ancok, 1994;144).
Psikologi Islam sebenarnya merupakan pandangan Islam tentang “manusia” yang tidak harus dikait-kaitkan dengan pandangan psiklogi barat. Dasar pendidikan psikologi barat adalah spekulatif philoshopis tentang manusia, sedangkan psikologi Islam didasarkan atas sumber otentik yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. (Jamaluddin Ancok dan Fuad Nasori: 1995;139).
Dalam khazanah islam terdapat istilah-istilah yang dapat dijadikan sebagai ruang lingkup psikologi kepribadian islam, yaitu:
a.       Al-Fitrah (citra asli)
Fitrah merupakan citra asli manusia, yang berpotensi baik atau buruk di mana aktualisasinya tergantung pilihanya. Fitrah adalah citra asli yang dinamis, yang terdapat pada sistem-sistem psikofisik manusia, dan dapat diaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku.
b.      Al-Hayah (vitality)
Hayah adalah daya, tenaga energy atau vitalitas hidup manusia yang karenanaya manusia dapat bertahan hidup. Al-Hayah ada dua macam yaitu: (1) jasmani yang intinya berupa nyawa atau energy fisik dan (2) ruhani yang intinya berupa amanat dari tuhan.
c. Al-Khuluq (karakter)
Khuluq/akhlak adalah kondisi batiniah (dalam) bukan kondisi lahiriyah (luar) individu yang mencangkup al-thab’u dan al-sajiyah. Dalam terminology psikologi, karakter adalah watak, perangkai sifat dasar yang khas, satu sifat atau kualitas yang tetap terus menerus dean kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasikan seseorang tersebut.
d.      Al-Thab’u (tabiat)
Tabiat yaitu citra batin individu yang menetap (al-sukun). Citra ini terdapat pada konstitusi (al-jibillah) individu yang dicuiptakan  oleh Allah SWT sejak lahir. Menurut ikhwan al-shafa, tabiat adalah daya dari daya nafs kulliyah yang menggerakan jasad manusia.
e.       Al-Sajiyah ( bakat)
Sajiyah adalah kebiasaan (adah) individu yang berasal dari hasil integrasi antara karakter individu (fariyyah) dengan aktivitas-aktivitas yang diusahakan (al-muktasab). Dalam terminology psikologi, sajiyah diterjemahkan dengan bakat (aptitude), yaitu kapasitas kemampuan yang bersifat potensial.
f.       Al-Sifat (sifat-sifat)
Sifat yaitu satu ciri khas individu yang relative menetap, secara terus menerus dan konsekuen yang diungkapakan dalam satu deretan menjadi keadaan. Sifat-sifat totalitas dalam diri individu dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu diferensiasi, regulasi, dan integrasi.
g.      Al-amal (perilaku)
Amal yaitu tingkah laku lahiriah individu yang tergambar dalam bentuk perbuatan nyata. Pada tingkat amal ini kepribadian individu yang dapat diketahui, sekalipun kepribadian yang dimaksud mencabngkup lahir dan batin.
Clerence W.Brown dan Edwin E.Ghiselli yang kemudian dikutip dan dikembangkan oleh Hanna Djumhana Bastaman mengemukakan lima fungsi psikologi islam (termasuk psikologi kepribadian islam), yaitu:
1.      Fungsi pemahaman (understanding), memahami kepribadian apa adanya dan bagaimana seharusnya. Memberikan penjelasan yang benar, masuk akal dan ilmiah-qurani mengenai tingkah laku manusia.
2.      Fungsi pengendalian (control), memberi arah yang efektif dan efesien untuk berbagai tingkah laku manusia, serta memanfaatkan temuan-temuan ilmiah-qurani secara benar untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
3.      Fungsi pemahaman (prediction), memberi gambaran mengenai kondisi tingkah laku manusia di masa mendatang (termasuk kehidupan setelah mati dan di akhirat kelak) serta memperkirakan hal-hal yang akan terjadi pada periode waktu tertentu.
4. Fungsi pengembangan (development), memperluas dan mendalami ruang lingkup psikologi kepribadian islam, menyusun teori-teori baru, menyempurnakan metodologi dan menciptakan berbagai teknik dan pendekatan psikologis.
5.      Fungsi pendidikan (education), meningkatkan kualitas perilaku manusia, menunjukan tingkah laku yang benar dan baik, dan memberi arahan bagaimana mengubah tingkah laku yang salah menjadi benar, sehingga membentuk kepribadian yang sempurna (kamil).

Teori Humanistik ( sem 5 Reguler)



Teori Humanistik
SEJARAH PSIKOLOGI HUMANISTIK
       Awal mula lahirnya Psikologi Humanistik adalah berangkat dari nuansa psikologi yang ada pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika.
        Pada saat itu gerakan behavioristik dan psikoanalisa sangat diagung-agungkan, aliran-aliran atau gerakan-gerakan psikologi lainnya sangat tidak dipedulikan. Psikologi Humanistik ini lahir atas dasar ketidakpuasan atas gerakan behavioristik dan psikoanalisa dalam memandang manusia, pada saat itu gambaran manusia merupakan suatu gambaran yang partial, tidak lengkap, dan satu sisi.
       Pada awal tahun 1950-an psikologi humanistik ini terus tumbuh dan berkembang dan mengkritik gerakan-gerakan psikologi modern sebelumnya khususnya gerakan behavioristik.
       Kemudian pada masa perkembangan psikologi humanistik tersebut terdapat dua aliran filsafat, yaitu filsafat fenomenologi dan filsafat eksistensialisme.
       Kedua aliran filsafat tersebut sangat menarik bagi beberapa ahli psikologi yang di Amerika yang merasa tidak puas dan terasing dari psikologi behavioristik dan psikoanalisis. Pada dasarnya mereka mencari alternatif dalam psikologi yang fokusnya pada manusia dan ciri-ciri eksistensialnya
       Humanistik mengatakan bahwa manusia adalah suatu ketunggalan
       yang mengalami, menghayati dan pada dasarnya aktif, punya
       tujuan serta punya harga diri.
        Pandangan seperti ini adalah pandangan yang holistik. Selain itu manusia juga harus dipandang dengan penghargaan yang tinggi terhadap harga dirinya, perkembangan pribadinya, perbedaan-perbedaan individunya dan dari sudut kemanusiaanya itu sendiri. Karena itu psikologi harus memasuki topik-topik yang tidak dimasuki oleh aliran behaviorisme dan psikoanalisis, seperti cinta, kreatifitas,
       pertumbuhan, aktualisasi diri, kebutuhan, rasa humor, makna,
       kebencian, agresivitas, kemandirian, tanggung jawab dan
       sebagainya. Pandangan ini disebut pandangan humanistik.
       Pencetus teori psikologi humanistik adalah Abraham Maslow pada sekitar tahun 1950-an. Teori ini mengkaji manusia dari diri pribadinya, aktualisasinya, kreativitasnya, potensinya, individualitasnya, ego dan keinginannya.
       Selain itu James Bugental juga mengembangkan teori Psikologi Humanistik, ia menyimpulkan bahwa Psikologi humanistikmelihat manusia dari dimensi tempat dia tinggal, karena lingkungan akan mempengaruhinya secara manusiawi.
        Di dalam teori ini juga dijelaskan adanya kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya. James Bugental(1964)terdapat lima hal yang perlu diperhatikan dalam mempelajari Psikologi Humanistik, yaitu:
       -            Keberadaan manusia tidak dapat direduksi kedalam komponen-komponen.
       -            Manusia memiliki keunikan tersendiri.
       -            Manusia memiliki kesadaran akan dirinya dan mengadakan hubungan dengan orang lain.
       -            Manusia memiliki pilihan dan bertanggung jawab atas pilihannya.
       -            Manusia memiliki kesadaran untuk mencari makna, nilai, dan kreativitas.
ABRAHAM MASLOW
       Manusia adalah seseorang yang mengalami, menghayati, dan pada dasarnya aktif serta memiliki tujuan dan harga diri.
       Walaupun dalam penelitian boleh saja dilakukan analisis rinci mengenai bagian-bagian dari jiwa (psyche) manusia. Namun dalam penyimpulannya, manusia tetap harus dipandang secara holistik atau menyeluruh. Selain itu manusia juga harus di pandang dengan penghargaan yang tinggi terhadap harga dirinya, perkembangan pribadinya, perbedaan individualnya dan dari sudut pandang kemanusiaannya itu sendiri.
       Psikologi harus masuk dalam topik-topik yang selama ini hampir tidak pernah dilihat dan dipertimbangkan oleh aliran-aliran behaviorisme dan psikoanalisis, seperti cinta, kreativitas, pertumbuhan, aktualisasi diri, kemandirian, tanggung jawab, dan sebagainya. Pandangan seperti ini disebut pandangan humanistik  (human= manusia).
       Teori Humanistik melihat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis yang tinggi. Teori Humanistik meliputi pendapat dari Abraham Maslow (1908-1970) yaitu manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan tersebut adalah:
-          Kebutuhan fisik/biologis
-          Kebutuhan akan rasa aman
-          Kebutuhan akan rasa dimiliki (sense of belonging) dan cinta
-          Kebutuhan akan penghagaan dan harga diri
-          Kebutuhan aktualisasi / perwujudan diri
-          Kebutuhan estetik
Hierarki Kebutuhan Maslow
Maslow menyusun suatu hierarki kebutuhan manusia, yang menggunakan susunan piramida untuk menjelaskan dorongan atau kebutuhan dasar yang memotivasi satu individu, yaitu:
Tingkat pertama (Kebutuhan Fisiologis)
Kebutuhan paling dasar yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi pertama kali  dan paling mendesak karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis manusia dan juga kelangsungan hidupnya. Antara lain kebutuhan akan makanan, air, tidur, tempat untuk tinggal, seksual, dan bebas dari rasa sakit.
Tingkat kedua
Kebutuhan tingkat berikut akan muncul apabila kebutuhan tingkat pertama telah terpenuhi. Kebutuhan akan adaya keselamatan, keamanan, dan bebas dari ancaman bahaya atau resiko kerugian berupa jaminan keselamatan dari lingkungannya.
Tingkat ketiga
Kebutuhan untuk mencintai dan memiliki seseorang yang cakupannya untuk membina keintiman atau kedekatan dengan orang lain, persahabatan, dan adanya dukungan. Kebutuhan ini akan mendorong individu untuk menjalin hubungan secara afektif dan emosional dengan individu lainnya, baik lawan jenis ataupun sesama jenis, dalam lingkungan keluarga maupun di dalam masyarakat.
Tingkat keempat
Kebutuhan yang berkaitan dengan harga diri, berupa kebutuhan untuk mendapatkan rasa hormat dan penghargaan dari diri sendiri dan juga dari orang lain. Seseorang perlu mengetahui bahwa dirinya berharga dan dapat mengatasi berbagai tantangan yang ada dalam kehidupannya.
Tingkat tertinggi
Berupa aktualisasi diri yaitu individu yang telah mencapai pemenuhan semua kebutuhan dan telah mengembangkan potensi dirinya secara keseluruhan, adanya kebutuhan akan kecantikan, kebenaran dan keadilan sesuai dengan keinginan dan potensi yang dia miliki. Individu yang sudah mencapai tahap aktualisasi diri berarti telah menjadi manusia seutuhnya dan mampu memenuhi kebutuhan – kebutuhan yang bagi orang lain tidak pernah terlihat.
Maslow menyimpulkan bahwa kebutuhan dasar yang berada di tingkat paling bawah dari piramida ini akan mendominasi perilaku setiap individu sampai kebutuhan – kebutuhan tersebut terpenuhi pada setiap tingkatannya, dan lalu kebutuhan pada setiap tingkat diatasnya akan menjadi dominan ketika kebutuhan di bawahnya telah terpenuhi.
Perbedaan pada setiap individu terletak pada motivasi untuk melakukan sesuatu yang tidak selalu merupakan hal yang stabil di sepanjang hidupnya. Lingkungan hidup yang terganggu dapat menyebabkan motivasi menurun ke tingkat yang lebih rendah.
Teori Tambahan Maslow
Maslow mengemukakan tiga teori tambahan sebagai berikut:
Kebutuhan estetis
Kebutuhan ini tidak bersifat universal karena hanya sedikit orang yang akan termotivasi dengan kebutuhan akan keindahan dan perlunya mengalami peristiwa menyenangkan secara estetis. Orang yang mempunyai kebutuhan estetis kuat biasanya menginginkan lingkungan sekelilingnya selalu indah, teratur dan mereka bisa menjadi sakit karena kebutuhannya tidak terpenuhi.
Kebutuhan kognitif
Berupa keinginan sebagian besar orang untuk mengetahui, memecahkan masalah, dan menyelidiki suatu hal. Menurut Maslow, satu pribadi yang sehat seharusnya selalu ingin tahu lebih banyak , memiliki teori tentang sesuatu, menguji hipotesis yang didapatkannya dan merasa puas hanya dengan mengetahui bagaimana satu hal bekerja.
Kebutuhan neurotik
Menurut Maslow, kebutuhan ini bersifat non produktif karena hanya berkisar pada gaya hidup tertentu yang tidak sehat dan tanpa nilai yang dilakukan individu untuk mencapai aktualisasi diri.
Teori Carl Rogers
Seorang pencetus gerakan potensi manusia dengan penekanan pribadi melalui latihan sensitivitas, kelompok pertemuan, dan lain – lain yang ditujukan untuk membantu orang supaya memiliki kepribadian yang sehat.
Rogers membangun teori nya berdasarkan praktik interaksi therapeutik yang dia lakukan dengan pasien – pasiennya. Teori Rogers dinamakan “Person Centered Theory” karena menekankan kepada sisi subjektif dari seseorang individu
Pokok Utama Teori Rogers
Perhatian utama teori Rogers ditujukan kepada perkembangan atau perubahan kepribadian manusia. Dua pokok utama dalam teori Rogers adalah:
1. Organisme
Menurut Rogers, organisme adalah makhluk fisik yang ada dengan semua fungsinya baik fungsi fisik maupun psikis. Organisme merupakan tempat terjadinya semua pengalaman yang merupakan persepsi seseorang tentang kejadian yang terjadi di dalam dirinya sendiri dan  juga di luar dunianya.
Keseluruhan dari pengalaman yang didapatkan baik itu sadar maupun tidak akan membangun medan fenomenal seseorang yang tidak akan diketahui oleh orang lain kecuali melalui inferensi empatik yang tidak sempurna. Menunjukkan bahwa perilaku manusia bukan merupakan fungsi atau pengaruh dari kenyataan luar atau rangsangan dari lingkungan, melainkan berupa realitas subjektif atau medan fenomenal.
2. Self
Dikenal dengan “self concept” atau konsep diri, diartikan oleh Rogers sebagai persepsi tentang karakteristik ‘I’ atau ‘me’.
Persepsi mengenai hubungan ‘i’ atau ‘me’ dengan orang lain dan berbagai aspek kehidupan, termasuk juga dengan nilai – nilai yang berhubungan. Pokok utama ini juga ditafsirkan sebagaai keyakinan tentang kenyataan, keunikan dan kualitas dari tingkah laku itu sendiri.
 Adanya konsep diri berarti merupakan gambaran mental yang terbentuk mengenai diri sendiri.
Hubungan antara ‘Self concept’ dengan organisme bisa terjadi melalui dua kemungkinan, yaitu ‘congruence’  yang berarti hubungan mengandung kecocokan, dan ‘incongruence’ yang berarti terjadi ketidak cocokan yang keduanya menentukan perkembangan kematangan, penyesuaian dan kesehatan mental individu.