Kamis, November 22

Dinamika kepribadian



Dinamika kepribadian

(Untuk Semester 5 Reguler)
Faktor-faktor penentu dalam dinamika kepribadian menurut Sigmund Freud:
       Insting
Perwujudan psikologik dari kebutuhan tubuh yang menuntut kepuasan adalah pengertian dari insting.
Secara kuantitatif insting merupakan enerji psikik yang menggerakkan proses kepribadian. Energi ini dapat ditelusuri kejelasannya melalui:
(1)     sumber (source), merupakan kondisi jasmaniah atau kebutuhan;
(2)     tujuan (aim), yaitu usaha untuk mengembalikan ke keadaan tenang sebelum munculnya insting, bersifat konstan, regresif, dan konservatif;
(3)     objek (object), adalah sesuatu yang menjembatani antara kebutuhan yang timbul dengan pemenuhannya
(4)     daya dorong (impetus), yakni kekuatan/intensitas keinginan berbeda-beda setiap waktu.
Ada dua jenis insting yaitu  insting hidup (eros) dan insting mati (tanatos).
  •  Insting jenis pertama berhubungan dengan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan
  •  sedangkan insting kedua adalah dorongan untuk menghancurkan yang ada pada setiap tubuh manusia dan dinyatakan dalam perkelahian, pembunuhan, sadisme, perang, dan lain sebagainya.
  • Distribusi dan Pemakaian Energi
Ilmu Fisika sangat berhasil dalam abad sembilan belas, dan Freud sangat dipengaruhi  oleh ahli fisika Jerman, Hermann von Helmholtz, yang berpendapat bahwa peristiwa fisiologis juga dapat dijelaskan oleh prinsip yang sama.
 Freud sangat terkesan dengan prinsip kekekalan energi yang menyatakan bahwa energi dapat diubah namun tak dapat diciptakan ataupun dihilangkan. Selain itu Freud menyatakan bahwa manusia juga merupakan sistem energi tertutup. Dalam tiap diri individu terdapat energi psikis yang disebut Libido (nafsu).
Penyerahan energi dari Id ke Ego dan Superego akan memicu hubungan yang rumit antara kekuatan pendorong (kateksis) dan kekuatan penahan (antikateksis) yang akan menentukan dinamika kepribadian seseorang. Di sinilah peran Ego dimainkan, dengan energi yang dimilikinya ia harus mengatur kepribadian secara bijaksana, melakukan pengecekkan kepada Id dan Superego serta menangani dunia eksternal. Individu memiliki peran Ego yang dominan selaras adalah salah satu tanda jiwa yang sehat.
Namun jika Ego lemah dalam mengatur konflik kejiwaan individu tersebut, ia akan menimbulkan perilaku yang abdormal. Contohnya saat Id terlalu mendominasi kepribadian individu akan menyebabkan individu tersebut terlalu cepat bertindak tanpa berpikir dan semaunya sendiri. Sama halnya jika yang terjadi adalah kekuatan Superego yang terlalu kuat akan menjadikan individu tersebut terbelenggu oleh aturan moral dan karena kekuatan ego ideal yang menerapkan standar yang tinggi, individu akan merasa terhambat dan gagal – hingga depresi.
       Kecemasan
Kecemasan atau anxiety adalah perasaan yang tergeneralisasi atas ketakutan dan kekhawatiran. Kecemasan juga merupakan suatu peringatan akan terjadinya suatu bahaya atau pengalaman psikologis yang penuh rasa nyeri
Terdapat 3 jenis kecemasan yaitu:
a.    Kecemasan realitas (reality anxiety), cemas yang didasarkan adanya objek atau ancaman nyata yang menakutkan dari dunia luar. Kecemasan ini adalah tonggak awal lahirnya kecemasan neurotic dan kecemasan moral.
b.    Kecemasan neurotis (neurotic anxiety), cemas yang timbul dari ketakutan memperoleh hukuman yang diyakini jika pemuasan Id dilakukan dengan cara sendiri, padahal hukuman tersebut belum tentu diterimanya. Jika mengalami kecemasan ini maka akan menimbulkan distress, panik, hingga tak dapat membedakan antara khayalan dan realita.
c.    Kecemasan moral (moral anxiety), cemas yang dirasakan saat tindakan-tindakan baik yang nyata maupun yang dipikirkan bertentangan dengan Superego sehingga menimbulkan perasaan bersalah. Pada kecemasan ini individu masih mampu berpikir realistik karena pengaruh besar Superego.
       Mekanisme Pertahanan
Seringkali Ego tak dapat mengambil tindakan penyelesaian yang rasional dan memadai, sehingga individu menciptakan penggantinya berupa tindakan irrasional yang disebut mekanisme pertahanan diri (ego defense mechanism). Tindakan ini hanya tindakan palivatif saja (tidak tuntas, tidak sesuai kenyataan). Hal yang paling penting dalam mekanisme pertahanan diri adalah konsep ketidaksadaran, karena itu proses penanggulangannya tidak rasional.

Psikoanalisa



Psikoanalisa

(Untuk semester 5 Reguler)

Psikoanalisa merupakan suatu metode penyembuhan yang bersifat psikologis dengan cara-cara fisik.
Psikoanalisa tidak lahir dari penelitian akademis , sebagaimana system-sistem lain, namun merupakan produk konsekuensi terapan praktik klinis.
Penyusunan observasi yang dilakukan Freud bertujuan untuk menyusun berbagai pendekatan-pendekatan terapi yang sangat dibutuhkan.
Psikoanalisa merupakan psikologi ketidaksadaran.
 Kesadarannya tertuju kearah bidang motivasi,emosi,konflik,simptom-simptom neurotic,mimpi-mimpi dan sifat-sifat karakter.
Psikoanalisa  dahulu lahir bukan dari psikologi melainkan dari kedokteran ,yakni kedokteran bidang sakit jiwa. Tokoh utama psikoanalisa ialah Sigmund Freud. Pada mulanya Freud mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa .
Formulasi-formulasi inilah yang diperluas ke teori psikodinamika perkembangan kepribadian yang bergantung pada pengurangan ketegangan
Psikoanalisis ditemukan di Wina, Austria, oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis merupakan salah satu aliran di dalam disiplin ilmu psikologi yang memiliki beberapa definisi dan sebutan, Adakalanya psikoanalisis didefinisikan sebagai metode penelitian, sebagai teknik penyembuhan dan juga sebagai pengetahuan psikologi.
Ø  Psikoanalisis menurut definisi modern yaitu:
1.      Psikoanalisis adalah pengetahuan psikologi yang menekankan pada dinamika, faktor-faktor psikis yang menentukan perilaku manusia, serta pentingnya pengalaman masa kanak-kanak dalam membentuk kepribadian masa dewasa.
2.      Psikoanalisis adalah teknik yang khusus menyelidiki aktivitas ketidaksadaran (bawah sadar).
3.      Psikoanalisis adalah metode interpretasi dan penyembuhan gangguan mental.
Ø  Psikoanalisis dalam pengertian lain (Hjelle & Ziegler, 1992) yaitu:
1.      Teori mengenai kepribadian & psikopatologi.
2.      Metode terapi untuk gangguan kepribadian teknik untuk menyelidiki pikiran & perasaan individu yang tidak disadari.
Ø  Psikoanalisis memiliki sebutan-sebutan lain yaitu:
1.      Psikologi dalam, karena menurut Freud penyebab neurosis adalah gangguan jiwa yang tidak dapat disadari, pengaruhnya lebih besar dari apa yang terdapat dalam kesadaran dan untuk menyelidikinya, diperlukan upaya lebih dalam.
2.      Psikodinamika, karena Psikoanalisis memandang individu sebagai sistem dinamik yang tunduk pada hukum-hukum dinamika, dapat berubah dan dapat saling bertukar energi.
Adapun contoh dari Psikoanalisis adalah Hipnotis, analisis mimpi, mekanisme pertahanan diri.
Konsep Dasar Psikoanalisa
Sumbangan terbesar Freud adalah konsep-konsepnya tentang kesadaran dan ketidaksadaran yang merupakan dasar atau kunci untuk memahami tingkah laku dan masalah kepribadian. Dengan kepercayaannya bahwa sebagian besar fungsi psikologis terletak di luar kawasan kesadaran,  maka sasaran terapi psikoanalitik adalah membuat motif-motif tidak sadar menjadi disadari. Dari perspektif ini, terapi adalah upaya menyingkap makna gejala-gejala, sebab-sebab tingkah laku, dan bagian-bagian yang direpresi yang menghalangi fungsi psikologis yang sehat.
Selain kesadaran, kecemasan juga menjadi hal yang esensial untuk menggambarkan tentang sifat manusia. Apabila tidak dapat mengendalikan kecemasan melalui cara-cara yang rasional dan langsung maka ego akan mengandalkan cara-cara yang tidak relistis yaitu tingkah laku yang berorientasi pada pertahanan ego. Freud menyakini bahwa  individu yang hati nuraninya berkembang baik cenderung merasa berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya.
Beberapa konsep dasar dari psikoanalisa diantaranya:
·          Manusia secara esensial bersifat biologis, terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif, sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan itu.
·         Manusia bersifat tidak rasional, tidak sosial dan destruktif terhadap dirinyadan orang lain. Libido mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan.
·          Di mana manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tidak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa-pristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan.
·          Alam sadar adalah bagian kesadaran yang memiliki fungsi mengingat, menyadari dan merasakan sesuatu secara sadar. Alam sadar ini memiliki ruang yang terbatas dan saat individu menyadari berbagai rangsangan yang ada di sekitar kita.
·           Alam prasadar yaitu bagian dasar yang menyimpan ide, ingatan dan perasaan yang
berfungsi mengantarkan ide, ingatan dan perasaan tersebut ke alam sadar jika kita berusaha mengingatnya kembali.
·           Alam bawah sadar adalah bagian dari dunia kesadaran yang terbesar dan sebagian besar yang terpenting dari struktur psikis, karena segenap pikiran dan perasaan yang dialami sepanjang hidupnya yang tidak dapat disadari lagi akan tersimpan didalamnya.
·           Ketidakmampuan menaruh kepercayaan pada diri sendiri dan pada orang lain.
·          Ketidakmampuan mengakui dan mengungkapkan perasaan-perasaan benci dan marah, penyangkalan terhadap kekuatan sendiri sebagai pribadi, dan kekurangan perasaan-perasaan otonom.

Hakekat Manusia

Berdasarkan dari teori yang dikembangkan Freud, prinsip-prinsip psikonalisis tentang hakikat manusia didasarkan pada asumsi-asumsi :
·         Pengalaman masa kanak-kanak mempengaruhi perilaku pada masa dewasa
·         Proses mental yang tidak disadari mengintegrasi perilaku-perilaku
·         Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan mengembangkan diri melalui dorongan libido dan agresivitasnya sejak lahir
·         Secara umum perilaku manusia bertujuan untuk meredakan ketegangan, menolak kesakitan dan mencari kenikmatan
·         Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan seksual mengarah pada perilaku neurosis
·         Pembentukan simptom merupakan bentuk defensif
·         Apa yang terjadi pada seseorang saat ini dihubungkan pada sebab-sebab di masa lampaunya dan memotivasi untuk mencapai tujuan-tujuan di masa yang akan datang
·         Latihan pengalaman di masa kanak-kanak berpengaruh penting pada perilaku masa dewasa dan diulangi dalam transferensi selama proses terapi.
Hakekat Konseling
Secara umum hakikat konseling adalah mengubah perilaku. Dalam pendekatan psikonanalisa hakikat konseling adalah agar individu mengetahui ego dan memiliki ego yang kuat, yaitu menempatkan ego pada tempat yang benar yaitu sebagai pihak mampu memilih secara rasional dan menjadi mediator antara Id dan Superego. Konseling dalam pandangan psikoanalisis adalah sebagai proses re-edukasi terhadap ego menjadi lebih realistik dan rasional.
Id
Id merupakan dorongan biologis yang berada dalam ketidaksadaran (dorongan nafsu) yang beroperasi menurut prinsip kenikmatan (pleasure principle) struktur mental ini sudah ada sejak lahir (bawah sadar). Manusia lahir membawa id, contohnya jika lapar kita menangis, mau mandi kita menangis. Jadi id merupakan bagian yang paling primitif yang tediri dari kebutuhan biologis dasar.
Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey (1994:64), Id merupakan system kepribadian yang asli, id juga merupakan rahim tempat ego dan superego berkembang. Id berisikan segala sesuatu yang secara psikologis diwariskan dan telah ada sejak lahir, termasuk instink-instink. Freud menyebut id sebagai “kenyataan psikis yang sebenarnya”.
Id tidak bisa menanggulangi peningkatan energi yang dialaminya sebagai keadaan-keadaan tegangan yang tidak menyenangkan. Karena itu, apabila tingkat tegangan organism meningkat, maka id akan bekerja sedemikian rupa untuk segera menghentikan tegangan dan mengembalikan organisme pada tingkat enegi rendah dan konstan serta menyenangkan.
Sumadi Suryabrata (2005:125), yang menjadi pedoman dalam berfungsinya id ialah menghindari diri dari ketidakenakan dan mengejar keenakan, pedoman ini disebut Freud sebagai “prinsip kenikmatan” atau “prinsip keenakan”. Untuk menghilangkan ketidakenakan dan mencapai keenakan itu id mempunyai dua cara (alat proses), yaitu:
a.    Refleks dan reaksi-reaksi otomatis, seperti bersin, berkedip, dan sebagainya.
b.    Proses primer (primair vorgang), seperti orang lapar maka akan membayangkan makanan. Proses primer menyangkut suatu reaksi psikologis yang sedikit lebih rumit. Ia beruasaha menghentikan tegangan dengan membentuk khayalan tenteng objek yang dapat menghilangkan tegangan tersebut.
Ego
Ego adalah struktur fikiran yang beroperasi menurut prinsip kenyataan (reality principle), yang mengutamakan pemikiran logika dan rasional (tahap sadar). Ego timbul karena kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan objektif. Orang yang lapar harus mencari, menemukan dan memakan makanan sampai tegangan karena rasa lapar dapat dihilangkan.
Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey (1994:65), perbedaan pokok antara id dan ego adalah bahwa id hanya mengenal kenyataan subjektif-jiwa, sedangkan ego mebedakan antara hal-hal yang terdapat dalam batin dan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar. Ego bekerja berdasarkan prinsip kenyataan, dan beroperasi menurut proses sekunder. Tujuan prinsip kenyataan adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukan suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Gerald Corey (2009:15) hubungan antara id dan ego adalah ego tempat bersemayam intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan impuls-impuls buta dari id.
Proses sekunder merupakan adalah berfikir realistic. Dengan proses sekunder, ego menyusun rencana untuk memuaskan kebutuhan dan kemudian menguji rencana ini, yang biasanya melalui suatu tindakan, untuk melihat apakah rencana itu berhasil atau tidak. Hal ini disebut pengujian terhadap kenyataan (reality testing).
Ego disebut eksekutif kepribadian, karena ego mengontrol pintu-pintu kearah tindakan, memilih segi-segi lingkungan kemana ia akan memberi respon, dan memutuskan instink manakah yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya.
Super ego
Super Ego itu Merupakan struktur yang terbentuk dari komponen sosial dan moral, struktur ini bertanggung jawab menentukan tingkah laku baik dan buruk,beroperasi menurut prinsip moral. Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey (1994:67), superego adalah perwujudan internal dari nilai-nilai dan cita-cita tradisional masyarakat sebagaimana diterangkan orang tua kepada anaknya, dan dilaksanakan dengan cara memberi hadiah-hadiah atau hukuman-hukuman. Superego adalah wewenang moral dari kepribadian, dia mencerminkan yang ideal bukan yang real, dan memperjuangkan kesempurnaan dan bukan kenikmatan. Perhatiannya yang utama adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah dengan demikian ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui oleh wakil-wakil masyarakat.
Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey (1994:67), fungsi-fungsi pokok superego adalah:
a.    Merintangi impuls-impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif, karena inilah impuls-impuls yang pernyataannya sangat dikutuk oleh masyarakat.
b.    Mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan moralitas.
c.    Mengajar kesempurnaan.

Fungsi Kepribadian dan Fenomenologi



Fungsi Kepribadian dan Fenomenologi

Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.
Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang di dalamnya mencakup :
• Karakter yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
• Temperamen yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
• Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen.
• Stabilitas emosi yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih, atau putus asa
• Responsibilitas (tanggung jawab) adalah kesiapan untuk menerima risiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima risiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari risiko yang dihadapi.
• Sosiabilitas yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Elizabeth (Syamsu Yusuf, 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian :
a. Kepribadian yang sehat
        Mampu menilai diri sendiri secara realisitik;menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan
       Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
       Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
        Menerima tanggung jawab;  mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
        Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
       Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
       Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
        Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
        Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
        Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
        Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi), acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang
b. Kepribadian yang tidak sehat
        Mudah marah (tersinggung)
        Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
        Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
        Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
        Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
        Kebiasaan berbohong
        Hiperaktif
        Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
        Senang mengkritik/mencemooh orang lain
        Sulit tidur
        Kurang memiliki rasa tanggung jawab
        Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
        Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
        Pesimis dalam menghadapi kehidupan
       Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan

fenomenologi
Kata fenomenologi berasal dari kata Yunani fenomenon, yaitu sesuatu yang tampak, yang terlihat karena bercahaya, yang didalam bahasa Indonesia disebut gejala. Jadi fenomenologi adalah suatu aliran yang mebicarakan fenomena, atau segala sesuatu yang menampakkan diri (Hadiwijoyo, 2002).
Fenomenologi adalah ilmu dalm bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena.
Pendekatan fenomenologi dari Rogers konsisten menekankan pandangan bahwa tingkah laku manusia hanya dapat dipahami dari bagaimana dia memandang realita secara subyektif.
 Pendekatan ini juga berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri, bahwa hakekat terdalam dari manusia adalah sifatnya yang bertujuan, dapat dipercaya, dan mengejar kesempurnaan diri.
Carl rogers terkenal berkat metode terapi yang dikembangkannya, yaitu tak mengarahkan atau terapi berpusat pada klien.
 Rogers adalah orang pertama yang melibatkan peneliti ke dalam sesi terapi. Dengan cara itu orang mulai belajar mengenai hakekat psikoterapi dan proses beroperasinya
Teori fenomenologis Rogers yaitu realitas setiap orang akan berbeda-beda tergantung pengalamannya,yaitu pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman tersebut dinamakan fenomenal field. Rogers menerima self dari lapangan fenomena tersebut.
Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda, tergantung bagaimana individu tersebut menyikapinya.
Rogers memandang masa lampau akan mempengaruhi masa  sekarang sehingga berdampak pada masa depan.
Pengalaman tersebut akan membentuk konsep/struktur self  yaitu angapan dirinya berbeda dengan orang lain. setiap pengalaman akan diseleksi menurut struktur self ada yang diterima dan ada pula yang ditolak,penolakan tersebut sebagai upaya mempertahankan konsep self yang telah ada dan pada setiap manusia yang tidak ingin dia ubah..
Fenomenologi dalam arti luas adalah suatu filsafat yang berpegang pada motto Husserl ”kembali kepada berbagai hal itu sendiri”, yang bisa diartikan sebagai deskripsi yang bisa dipercaya dan tidak menyimpang tentang kesegaran kesadaran.
Fenomenologi pada prinsipnya adalah suatu metode:
1)      intuisi langsung sebagai sumber utama pengetahuan,
2)       studi intuitif atas esensi-esensi.
Metode ini diambil oleh berbagai orientasi filosofis yang secara bersama disebut gerakan fenomenologi. Gerakan ini dirintis oleh Franz Brentano (1836-1917), dan dilanjutkan serta didirikan oleh Edmund Husserl (1859-1938).
Metode fenomenologis terdiri dari pengujian terhadap apa saja yang ditemukan dalam kesadaran atau dengan kata lain, terhadap data atau fenomena kesadaran.
Sasaran utama metode fenomenologis bukanlah tindakan kesadaran, melainkan obyek dari kesadaran, umpamanya, segenap hal yang dipersepsi, dibayangkan, diragukan, atau disukai.
Tujuan utamanya adalah menjangkau esensi-esensi hal-hal tertentu yang hadir dalam kesadaran.
Metode fenomenologis terdiri dari pengujian terhadap apa saja yang ditemukan dalam kesadaran atau dengan kata lain, terhadap data atau fenomena kesadaran.
Sasaran utama metode fenomenologis bukanlah tindakan kesadaran, melainkan obyek dari kesadaran, umpamanya, segenap hal yang dipersepsi, dibayangkan, diragukan, atau disukai.
Tujuan utamanya adalah menjangkau esensi-esensi hal-hal tertentu yang hadir dalam kesadaran.
Metode fenomenologis dipraktekkan dengan cara yang sistematis, melalui berbagai langkah atau teknik

Menurut penafsiran dan terminologi Spiegelberg, deskripsi fenomenologis dapat dibagi kedalam tiga fase, yaitu:
1.    Mengintuisi, artinya mengonsentrasikan diri secara intens atau merenungkan fenomena yang ada.
2.    Menganalisis, yaitu menemukan berbagai unsur atau bagian-bagian pokok dari fenomena yang ada dan bagaimana hubungannya dengan berbagai hal yang ada.
3.    Menjabarkan, adalah menguraikan fenomena yang telah diintuisi dan dianalisis, sehingga fenomena itu bisa dipahami oleh orang lain.
Istilah fenomenologi psikologis menunjuk pada fenomenologi sebagai metode yang diterapkan pada masalah-masalah psikologis atau digunakan pada penyelidikan taraf psikologis
Fenomenologis psikologis adalah suatu prosedur yang lebih terbatas dan spesifik, yang dirancang untuk mengeksplorasi kesadaran dan pengalaman manusia yang segera atau langsung.
Fenomenologi psikologis bisa juga didefinisikan sebagai observasi dan deskripsi yang sistematis atas pengalaman individu yang sadar dalam situasi tertentu.
Karl Jaspers mendefinisikan fenomenologi psikologis sebagai deskripsi yang paling lengkap dan cermat mengenai apa yang dialami oleh orang yang sehat ataupun orang yang sakit.
Pengeksplorasian kesadaran menunjuk baik pada tindakan-tindakan maupun pada isi-isi kesadaran dengan obyek-obyek dan makna-makananya.
Data fenomenal yang dieksplorasi mencakup persepsi-persepsi, perasaan-perasaan, ingatan-ingatan,  gagasan-gagasan, dan berbagai hal lainnya yang hadir dalam kesadaran.
Semua data fenomenal itu diterima dan dideskripsikan sebagaiana adanya, tanpa pengandaian-pengandaian atau transformasi-transformasi.
Pada perkembangannya fenomenologi memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi psikologi, dimana psikologi fenomenologi adalah suatu pendekatan atau orientasi dalam psikologi yang terdiri dari eksplorasi tak berbias atas kesadaran dan pengalaman.
Fenomena diintuisikan, dianalisis, dan dideskripsikan sebagaimana fenomena itu hadir dalam kesadaran tanpa praduga-praduga.
Fungsi psikologi fenomenologi bukanlah menggantikan gerakan-gerakan atau orientasi-orientasi psikologi lain, melainkan melengkapinya.
Diantara tokoh-tokoh psikologi fenomenologi adalah: Fenomenologi eksperimental: Aliran-aliran Gottingen dan Wurzburg, David Katz, aliran Gestalt, Albert Michotte, Orientasi teoritis: Maurice Merleu-Ponty, F.J.J. Buytendjik, dan lain-lain.
Pada awalnya psikologi fenomenologi berkembang di Eropa, kemudian berkembang di Amerika yang diawali dengan kedatangan para sarjana imigran Eropa yang melarikan diri ke Amerika karena mendapat tekanan dari Nazi Jerman. Mereka datang ke Amerika dengan membawa aliran Gestalt, filsafat fenomenologi, dan pendekatan eksistensial.
Para ahli psikologi dan filusuf kelahiran kelahiran Eropa seperti Kurt Goldstein, Erwin Straus, dan Aron Gurwitsch adalah para pelopor berdirinya psikologi fenomenologi di Amerika. Sumbangan dari psikologi fenomenologi diantaranya: persepsi, teori dan penelitian kepribadian, dan klinis