Senin, Februari 18

Teori Kepribadian Islam ( sem 5 Reguler)



Teori Kepribadian Islam
Psikologi secara etimologi mengandung arti ilmu tentang jiwa.
 Dalam Islam kata jiwa di samakan dengan “an-Nafsu” namun ada juga yang menyamakan dengan istilah “ar-Ruh” seperti psikolog Zuardin Azzainu.
Tetapi istilah ini lebih populer dari istilah ar-Ruh, karena “Psikologi” dalam bahasa Arab lebih populer diterjemahkan dengan ilmu ”an-Nafsu” daripada ilmu ar-Ruh
Sukanto Mulyo Martono lebih khusus menyebutnya dengan istilah Nafsiologi.
Penggunaan isilah tersebut di sebabkan karna obyek kajian psikologi adalah an-Nafsu sebagai aspek psikofisik dari manusia.
Perlu dipahami bahwa istilah an-Nafsu berbeda dengan term soul dan psyche dalam psikolgi kontemporer barat.
an-Nafsu adalah gabungan antara substansi jasmani dan rohani, sedangkan soul dan psychi hanya berkaitan dengan aspek psikis manusia (Abdul Mujib dan Yusuf Muzakkir: 2001;4).
Definisi psikologi Islam menurut para psikolog muslim:
Psikologi Islam adalah ilmu yang berbicara tentang manusia, terutama masalah kepribadian manusia, yang bersifat filsafat, teori, metodologi dan pendekatan problem dengan didasari sumber-sumber formal Islam (Al-Qur’an dan Al-hadits) dan akal, indra dan intuisi (Jamaluddin Ancok, 1994;144).
Psikologi Islam sebenarnya merupakan pandangan Islam tentang “manusia” yang tidak harus dikait-kaitkan dengan pandangan psiklogi barat. Dasar pendidikan psikologi barat adalah spekulatif philoshopis tentang manusia, sedangkan psikologi Islam didasarkan atas sumber otentik yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. (Jamaluddin Ancok dan Fuad Nasori: 1995;139).
Dalam khazanah islam terdapat istilah-istilah yang dapat dijadikan sebagai ruang lingkup psikologi kepribadian islam, yaitu:
a.       Al-Fitrah (citra asli)
Fitrah merupakan citra asli manusia, yang berpotensi baik atau buruk di mana aktualisasinya tergantung pilihanya. Fitrah adalah citra asli yang dinamis, yang terdapat pada sistem-sistem psikofisik manusia, dan dapat diaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku.
b.      Al-Hayah (vitality)
Hayah adalah daya, tenaga energy atau vitalitas hidup manusia yang karenanaya manusia dapat bertahan hidup. Al-Hayah ada dua macam yaitu: (1) jasmani yang intinya berupa nyawa atau energy fisik dan (2) ruhani yang intinya berupa amanat dari tuhan.
c. Al-Khuluq (karakter)
Khuluq/akhlak adalah kondisi batiniah (dalam) bukan kondisi lahiriyah (luar) individu yang mencangkup al-thab’u dan al-sajiyah. Dalam terminology psikologi, karakter adalah watak, perangkai sifat dasar yang khas, satu sifat atau kualitas yang tetap terus menerus dean kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasikan seseorang tersebut.
d.      Al-Thab’u (tabiat)
Tabiat yaitu citra batin individu yang menetap (al-sukun). Citra ini terdapat pada konstitusi (al-jibillah) individu yang dicuiptakan  oleh Allah SWT sejak lahir. Menurut ikhwan al-shafa, tabiat adalah daya dari daya nafs kulliyah yang menggerakan jasad manusia.
e.       Al-Sajiyah ( bakat)
Sajiyah adalah kebiasaan (adah) individu yang berasal dari hasil integrasi antara karakter individu (fariyyah) dengan aktivitas-aktivitas yang diusahakan (al-muktasab). Dalam terminology psikologi, sajiyah diterjemahkan dengan bakat (aptitude), yaitu kapasitas kemampuan yang bersifat potensial.
f.       Al-Sifat (sifat-sifat)
Sifat yaitu satu ciri khas individu yang relative menetap, secara terus menerus dan konsekuen yang diungkapakan dalam satu deretan menjadi keadaan. Sifat-sifat totalitas dalam diri individu dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu diferensiasi, regulasi, dan integrasi.
g.      Al-amal (perilaku)
Amal yaitu tingkah laku lahiriah individu yang tergambar dalam bentuk perbuatan nyata. Pada tingkat amal ini kepribadian individu yang dapat diketahui, sekalipun kepribadian yang dimaksud mencabngkup lahir dan batin.
Clerence W.Brown dan Edwin E.Ghiselli yang kemudian dikutip dan dikembangkan oleh Hanna Djumhana Bastaman mengemukakan lima fungsi psikologi islam (termasuk psikologi kepribadian islam), yaitu:
1.      Fungsi pemahaman (understanding), memahami kepribadian apa adanya dan bagaimana seharusnya. Memberikan penjelasan yang benar, masuk akal dan ilmiah-qurani mengenai tingkah laku manusia.
2.      Fungsi pengendalian (control), memberi arah yang efektif dan efesien untuk berbagai tingkah laku manusia, serta memanfaatkan temuan-temuan ilmiah-qurani secara benar untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
3.      Fungsi pemahaman (prediction), memberi gambaran mengenai kondisi tingkah laku manusia di masa mendatang (termasuk kehidupan setelah mati dan di akhirat kelak) serta memperkirakan hal-hal yang akan terjadi pada periode waktu tertentu.
4. Fungsi pengembangan (development), memperluas dan mendalami ruang lingkup psikologi kepribadian islam, menyusun teori-teori baru, menyempurnakan metodologi dan menciptakan berbagai teknik dan pendekatan psikologis.
5.      Fungsi pendidikan (education), meningkatkan kualitas perilaku manusia, menunjukan tingkah laku yang benar dan baik, dan memberi arahan bagaimana mengubah tingkah laku yang salah menjadi benar, sehingga membentuk kepribadian yang sempurna (kamil).

Teori Humanistik ( sem 5 Reguler)



Teori Humanistik
SEJARAH PSIKOLOGI HUMANISTIK
       Awal mula lahirnya Psikologi Humanistik adalah berangkat dari nuansa psikologi yang ada pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika.
        Pada saat itu gerakan behavioristik dan psikoanalisa sangat diagung-agungkan, aliran-aliran atau gerakan-gerakan psikologi lainnya sangat tidak dipedulikan. Psikologi Humanistik ini lahir atas dasar ketidakpuasan atas gerakan behavioristik dan psikoanalisa dalam memandang manusia, pada saat itu gambaran manusia merupakan suatu gambaran yang partial, tidak lengkap, dan satu sisi.
       Pada awal tahun 1950-an psikologi humanistik ini terus tumbuh dan berkembang dan mengkritik gerakan-gerakan psikologi modern sebelumnya khususnya gerakan behavioristik.
       Kemudian pada masa perkembangan psikologi humanistik tersebut terdapat dua aliran filsafat, yaitu filsafat fenomenologi dan filsafat eksistensialisme.
       Kedua aliran filsafat tersebut sangat menarik bagi beberapa ahli psikologi yang di Amerika yang merasa tidak puas dan terasing dari psikologi behavioristik dan psikoanalisis. Pada dasarnya mereka mencari alternatif dalam psikologi yang fokusnya pada manusia dan ciri-ciri eksistensialnya
       Humanistik mengatakan bahwa manusia adalah suatu ketunggalan
       yang mengalami, menghayati dan pada dasarnya aktif, punya
       tujuan serta punya harga diri.
        Pandangan seperti ini adalah pandangan yang holistik. Selain itu manusia juga harus dipandang dengan penghargaan yang tinggi terhadap harga dirinya, perkembangan pribadinya, perbedaan-perbedaan individunya dan dari sudut kemanusiaanya itu sendiri. Karena itu psikologi harus memasuki topik-topik yang tidak dimasuki oleh aliran behaviorisme dan psikoanalisis, seperti cinta, kreatifitas,
       pertumbuhan, aktualisasi diri, kebutuhan, rasa humor, makna,
       kebencian, agresivitas, kemandirian, tanggung jawab dan
       sebagainya. Pandangan ini disebut pandangan humanistik.
       Pencetus teori psikologi humanistik adalah Abraham Maslow pada sekitar tahun 1950-an. Teori ini mengkaji manusia dari diri pribadinya, aktualisasinya, kreativitasnya, potensinya, individualitasnya, ego dan keinginannya.
       Selain itu James Bugental juga mengembangkan teori Psikologi Humanistik, ia menyimpulkan bahwa Psikologi humanistikmelihat manusia dari dimensi tempat dia tinggal, karena lingkungan akan mempengaruhinya secara manusiawi.
        Di dalam teori ini juga dijelaskan adanya kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya. James Bugental(1964)terdapat lima hal yang perlu diperhatikan dalam mempelajari Psikologi Humanistik, yaitu:
       -            Keberadaan manusia tidak dapat direduksi kedalam komponen-komponen.
       -            Manusia memiliki keunikan tersendiri.
       -            Manusia memiliki kesadaran akan dirinya dan mengadakan hubungan dengan orang lain.
       -            Manusia memiliki pilihan dan bertanggung jawab atas pilihannya.
       -            Manusia memiliki kesadaran untuk mencari makna, nilai, dan kreativitas.
ABRAHAM MASLOW
       Manusia adalah seseorang yang mengalami, menghayati, dan pada dasarnya aktif serta memiliki tujuan dan harga diri.
       Walaupun dalam penelitian boleh saja dilakukan analisis rinci mengenai bagian-bagian dari jiwa (psyche) manusia. Namun dalam penyimpulannya, manusia tetap harus dipandang secara holistik atau menyeluruh. Selain itu manusia juga harus di pandang dengan penghargaan yang tinggi terhadap harga dirinya, perkembangan pribadinya, perbedaan individualnya dan dari sudut pandang kemanusiaannya itu sendiri.
       Psikologi harus masuk dalam topik-topik yang selama ini hampir tidak pernah dilihat dan dipertimbangkan oleh aliran-aliran behaviorisme dan psikoanalisis, seperti cinta, kreativitas, pertumbuhan, aktualisasi diri, kemandirian, tanggung jawab, dan sebagainya. Pandangan seperti ini disebut pandangan humanistik  (human= manusia).
       Teori Humanistik melihat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis yang tinggi. Teori Humanistik meliputi pendapat dari Abraham Maslow (1908-1970) yaitu manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan tersebut adalah:
-          Kebutuhan fisik/biologis
-          Kebutuhan akan rasa aman
-          Kebutuhan akan rasa dimiliki (sense of belonging) dan cinta
-          Kebutuhan akan penghagaan dan harga diri
-          Kebutuhan aktualisasi / perwujudan diri
-          Kebutuhan estetik
Hierarki Kebutuhan Maslow
Maslow menyusun suatu hierarki kebutuhan manusia, yang menggunakan susunan piramida untuk menjelaskan dorongan atau kebutuhan dasar yang memotivasi satu individu, yaitu:
Tingkat pertama (Kebutuhan Fisiologis)
Kebutuhan paling dasar yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi pertama kali  dan paling mendesak karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis manusia dan juga kelangsungan hidupnya. Antara lain kebutuhan akan makanan, air, tidur, tempat untuk tinggal, seksual, dan bebas dari rasa sakit.
Tingkat kedua
Kebutuhan tingkat berikut akan muncul apabila kebutuhan tingkat pertama telah terpenuhi. Kebutuhan akan adaya keselamatan, keamanan, dan bebas dari ancaman bahaya atau resiko kerugian berupa jaminan keselamatan dari lingkungannya.
Tingkat ketiga
Kebutuhan untuk mencintai dan memiliki seseorang yang cakupannya untuk membina keintiman atau kedekatan dengan orang lain, persahabatan, dan adanya dukungan. Kebutuhan ini akan mendorong individu untuk menjalin hubungan secara afektif dan emosional dengan individu lainnya, baik lawan jenis ataupun sesama jenis, dalam lingkungan keluarga maupun di dalam masyarakat.
Tingkat keempat
Kebutuhan yang berkaitan dengan harga diri, berupa kebutuhan untuk mendapatkan rasa hormat dan penghargaan dari diri sendiri dan juga dari orang lain. Seseorang perlu mengetahui bahwa dirinya berharga dan dapat mengatasi berbagai tantangan yang ada dalam kehidupannya.
Tingkat tertinggi
Berupa aktualisasi diri yaitu individu yang telah mencapai pemenuhan semua kebutuhan dan telah mengembangkan potensi dirinya secara keseluruhan, adanya kebutuhan akan kecantikan, kebenaran dan keadilan sesuai dengan keinginan dan potensi yang dia miliki. Individu yang sudah mencapai tahap aktualisasi diri berarti telah menjadi manusia seutuhnya dan mampu memenuhi kebutuhan – kebutuhan yang bagi orang lain tidak pernah terlihat.
Maslow menyimpulkan bahwa kebutuhan dasar yang berada di tingkat paling bawah dari piramida ini akan mendominasi perilaku setiap individu sampai kebutuhan – kebutuhan tersebut terpenuhi pada setiap tingkatannya, dan lalu kebutuhan pada setiap tingkat diatasnya akan menjadi dominan ketika kebutuhan di bawahnya telah terpenuhi.
Perbedaan pada setiap individu terletak pada motivasi untuk melakukan sesuatu yang tidak selalu merupakan hal yang stabil di sepanjang hidupnya. Lingkungan hidup yang terganggu dapat menyebabkan motivasi menurun ke tingkat yang lebih rendah.
Teori Tambahan Maslow
Maslow mengemukakan tiga teori tambahan sebagai berikut:
Kebutuhan estetis
Kebutuhan ini tidak bersifat universal karena hanya sedikit orang yang akan termotivasi dengan kebutuhan akan keindahan dan perlunya mengalami peristiwa menyenangkan secara estetis. Orang yang mempunyai kebutuhan estetis kuat biasanya menginginkan lingkungan sekelilingnya selalu indah, teratur dan mereka bisa menjadi sakit karena kebutuhannya tidak terpenuhi.
Kebutuhan kognitif
Berupa keinginan sebagian besar orang untuk mengetahui, memecahkan masalah, dan menyelidiki suatu hal. Menurut Maslow, satu pribadi yang sehat seharusnya selalu ingin tahu lebih banyak , memiliki teori tentang sesuatu, menguji hipotesis yang didapatkannya dan merasa puas hanya dengan mengetahui bagaimana satu hal bekerja.
Kebutuhan neurotik
Menurut Maslow, kebutuhan ini bersifat non produktif karena hanya berkisar pada gaya hidup tertentu yang tidak sehat dan tanpa nilai yang dilakukan individu untuk mencapai aktualisasi diri.
Teori Carl Rogers
Seorang pencetus gerakan potensi manusia dengan penekanan pribadi melalui latihan sensitivitas, kelompok pertemuan, dan lain – lain yang ditujukan untuk membantu orang supaya memiliki kepribadian yang sehat.
Rogers membangun teori nya berdasarkan praktik interaksi therapeutik yang dia lakukan dengan pasien – pasiennya. Teori Rogers dinamakan “Person Centered Theory” karena menekankan kepada sisi subjektif dari seseorang individu
Pokok Utama Teori Rogers
Perhatian utama teori Rogers ditujukan kepada perkembangan atau perubahan kepribadian manusia. Dua pokok utama dalam teori Rogers adalah:
1. Organisme
Menurut Rogers, organisme adalah makhluk fisik yang ada dengan semua fungsinya baik fungsi fisik maupun psikis. Organisme merupakan tempat terjadinya semua pengalaman yang merupakan persepsi seseorang tentang kejadian yang terjadi di dalam dirinya sendiri dan  juga di luar dunianya.
Keseluruhan dari pengalaman yang didapatkan baik itu sadar maupun tidak akan membangun medan fenomenal seseorang yang tidak akan diketahui oleh orang lain kecuali melalui inferensi empatik yang tidak sempurna. Menunjukkan bahwa perilaku manusia bukan merupakan fungsi atau pengaruh dari kenyataan luar atau rangsangan dari lingkungan, melainkan berupa realitas subjektif atau medan fenomenal.
2. Self
Dikenal dengan “self concept” atau konsep diri, diartikan oleh Rogers sebagai persepsi tentang karakteristik ‘I’ atau ‘me’.
Persepsi mengenai hubungan ‘i’ atau ‘me’ dengan orang lain dan berbagai aspek kehidupan, termasuk juga dengan nilai – nilai yang berhubungan. Pokok utama ini juga ditafsirkan sebagaai keyakinan tentang kenyataan, keunikan dan kualitas dari tingkah laku itu sendiri.
 Adanya konsep diri berarti merupakan gambaran mental yang terbentuk mengenai diri sendiri.
Hubungan antara ‘Self concept’ dengan organisme bisa terjadi melalui dua kemungkinan, yaitu ‘congruence’  yang berarti hubungan mengandung kecocokan, dan ‘incongruence’ yang berarti terjadi ketidak cocokan yang keduanya menentukan perkembangan kematangan, penyesuaian dan kesehatan mental individu.

Selasa, Desember 4

PRINSIP-PRINSIP UMUM EVALUASI




 (Sem V Intensif)

 PRINSIP-PRINSIP  UMUM  EVALUASI
 
1. Kontinuitas.
                       Evaluasi harus dilakukan secara kontinu. Hasil evaluasi harus dihubungkan dengan hasil waktu sebelumnya, sehingga dapat diperoleh gambaran yang j elas dan berarti tentang perkembangan siswa. Perkembangan siswa harus di lihat dari dimensi proses bahkan dimensi  input.
 2. Komprehensif .
                      Dalam melakukan evaluasi terhadap suatu obyek. Guru harus mengambil seluruh obyek sebagai bahan evaluasi. Contoh, jika obyek evaluasi adalah siswa, maka seluruh kepribadian siswa harus dievaluasi baik mengenai kognitif, afektif maupun psikomotor.
 3. Adil dan objektif.
                    Semua siswa harus diberlakukan sama. Evaluasi harus didasarkan atas kenyataan bukan hasil manipulasi atau rekayasa. Jadi guru harus berlaku adil tanpa pilih kasih.
 4. Kooperatif.
                    Dalam kegiatan evaluasi guru harus bekerja sama dengan semua pihak, seperti orang tua siswa, sesame guru, kepala sekolah, siswa . Hail ini dimaksudkan agar semua pihak merasa dihargai.
 5. Praktis.
                  Praktis berarti mudah digunakan ,baik  oleh guru yang menyusun alat evaluasi maupun orang lain yang akan menggunakan alat tersebut. Untuk itu perlu diperhatian bahasa dan petunjuk mengerjakan soal. 


Sebagai suatu program,evaluasi pembelajaran dibagi lima jenis, yaitu :
    1. Evaluasi perencanaan dan pengembangan.
               Evaluasi ini diperlukan untuk mendesain program pembelajaran. Sasaran utama adalah memberikan bantuan tahap awal dalam penyusunan program pembelajaran. Permasalahan yang disoroti mengenai kelayakan dan kebutuhan. Hasil evaluasi dapat meramalkan kemungkinan implementasi program dan tercapainya keberhasilan program pembelajaran. Pelaksanaan evaluasi dilakukan sebelum program disusun dan dikembangkan.
    2. Evaluasi monitoring.
                Evaluasi itu dimaksudkan untuk memeriksa apakah program pembelajaran mencapai sasaran secara efektif dan apakah program pembelajaran terlaksana sebagaimna mestinya.
3. Evaluasi dampak.
              Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh suatu program pembelajaran. Dampak ini dapat diukur berdasarkan
           kriteria keberhasilan sebagai inikator ketercapaian tujuan program pembelajaran.
 4. Evaluasi efisiensi-ekonomis.
             Evaluasi ini dimaksudkan untuk menilai tingkat efisiensi pelaksanaan program pembelajaran. Untuk itu diperlukan perbandingan antara jumlah biaya, tenaga danwaktu yang diperlukan dalam suatu program pembelajaran dengan program lainnya yang memiliki tujuan yang sama.
  5. Evaluasi program komprehensif.

 
                        Evaluasi ini dimaksudkan untuk menilai program pembelajaran secara menyeluruh, seperti perencanaan program, pelaksanaan program, monitoring pelaksanaan, dampak program, tingkat keefektifan dan   efisiensi. Dalam model evaluasi dikenal dengan educational systems evaluation model.
Evaluasi proses dan hasil belajar dibagai menjadi empat jenis yaitu :
(1)    penilaian formatif.  Penilaian ini dimaksudkan untuk memantau kemajuan belajar siswa selama proses belajar berlangsung untuk memberikan balikan (feedback) bagi penyempurnaan program pembelajaran, untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang memerlukan perbaikn sehingga hasil belajar siswa dan proses pembelajaranguru menjadi lebihbaik soal-soal evaluasi formatif terdapat yang mudah dan sukar tergantung dari tugas-tugas belajar dalam program pembelajaran yang dinilai;
(2) evaluasi sumatif. Istilah smatif berasal dari kata sum berarti total obtained by adding together items, nembers or amounts. Evaluasi sumatif berarti penilaian yang dilakukan jika satuan pengalaman belajar atau seluruh materi pelajaran yang dianggap selesai. Dengan demikian ujian akhir semester dan UAN termasuk evaluasi sumatif Evaluasi ini dimaksudkan untuk  mengetahui apakah siswa  sudah dapat menguasai standar kompetensi yan telah ditetapkan  atau belum , untuk meentukan nilai berdasarkan tingkat hasil belajar siswa selanjutnya dipakai sebagai angka rapor.
(3) evaluasi penempatan. Evaluasi penempatan dibuat sebagai pretes. Tujuan utama adalah untuk mengetahui apakah siswa telah memeiliki keterampilan yang diperlukan untuk mengikuti suatu program pembelajaran dan sejauhmana
siswa telah menguasai kompetensi dasar yang tercantum dalam silabi dan rencana pelaksaan pembelajaran (RPP),
(4) evaluasi diagnostic. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan belajar siswa berdasarkan hasil evaluasi formatif. Evaluasi diagnostic memerlukan sejumlah soal untuk satu bidang yang diperkirakan merupakan kesulitan bagi siswa. oal tersebut bervfariasi dandifokuskan pada kesulitan Evaluasi ini dilaksanakan sebelum suatu pelajaran dimulai. Tujuannya adalah untuk menjajagi pengetahuan dan keterampilan yang telahdikuasai oleh siswa. Dengan kata lain apakah siswa sudah mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk dapat mengikuti materi pelajaran lain. Evaluasi diagnostic disebut test of entering behavior. 

Adapun fungsi utama evaluasi sumatif adalah
(1)    untuk menentukan nilai akhir siswa dalamperoede tertentu. Contoh nilai ujian akhir semester;
(2)     untuk memberikanketerangan tentang kecakapan atau keterampilan siswa dalam periode tertentu,
(3)    untuk memperkirakan berhasil tidaknya siswa dalam pelajaran berikutnya yang lebih tinggi 

Teknik penilaian yang dapat digunakan antara lain:
1. Tes kinerja dapat digunakan untuk berbagai bentuk sperti tes ketersmpilan tertulis, tes identifikasi,ttes simulasi,.Melalui tes ini peserta didik mendemonstrasikan unjuk kerja sebagai perwudujudan kompetensi yang telah dikuasainya.
2. Demonstrasi. Teknik ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif sesuai dengan kompetensi yang dinilai.
3. Observasi. Teknik ini dilakukan secara formal dengan menggunakan instrumen yang sengaja dirancang untuk mengamati unjuk kerja dan kemajuan belajar peserta didik  dan dilakukan secara informal oleh pendidik tanpa menggunakan instrument.
 4. Penugasan. Teknik dilakukan dengan model proyek yang berupa sejumlah kegiatan dirancang , diselesaikan oleh peseta didik di luar kelas dan dilaporkan secara tertulis maupun lisan. Penugasan dapat berbentuk tugas rumah yang harus diselesaikan peserta didik.
 5. Portofolio. Teniki ini dilakukan dengan cara megnumpulkan dokumen dan karya-karya peserta didik dalam karya tertentu  yang diorganisasikan untuk mengetahui minat, perkembangan belajar dan prestasi belajar.
 6. Tes tertulis. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara uraian (essay) maupun obyektif seperti benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan dan melengkapi.
      7. Tes lisan. Teknik ini menuntut jawaban lisan dari peserta didik. Dalam pelaksanaan pendidik harus    bertatap muka secara langsung dengan peserta didik. Pendidik harus membuat daftar pertanyaan dan pedoman penskoran.
  8. Jurnal yaitu catatan peserta didik selama berlangsungnya proses pembelajaran. Jurnal berisikan deskripsi proses pembeljaran termasuk kekuatan dan kelemahan peserta didik terkait dengan kinerja ataupun sikap.
  9. Wawancara yaitu cara untuk memperoleh informasi secara mendalam yang diberikan secara lisan dan spontan tentang wawasan pengadangan atau aspek kepribadian peserta didik.
  10. Inventori yaitu skla psikologias yang digunakan untuk mengungkapkan sikap, minat dan persepsi peserta didik terhadpa obyek psikologis ataupun fenomena yang terjadi.
  11. Penilaian diri yaitu teknik penilaian yang digunakan agar peserta didik dapat mengemukakan kelebihan dan kekuarangan diri dalam berbagai hal.
  12. Penilaian antar teman. Teknik ini dilakukan dengan meminta peserta didik mengemukakan kelebihan dan kekuarangan teman dalam berbagai hal. Penilaian ini dapat berupa sosiometeri untuk mendapat informasi anak-anak yang favorit dan terisolasi dalam kelompoknya. 


Karateristik instrumen evaluasi pembelajaran  yang baik adalah : (1) valid, (2) reliable, (3) relevan, (4) representative, (5) praktis, (6) deskriminatif, (7) spesifik, dan (8) proposional
   1. Valid,  artinya instrumen betul-betul mengukur apa yang hendak diukur secara tepat. Misalnya alat ukur mata pelajaran IPS, maka alat ukur harus betul-betul mengukur kemampuan peserta didik dalam mempelajari IPS. Validitas instrument evaluasi dapat ditinjau dari berbagai segi, yaitu validitas ramalan (predictive validity), validitas bandingan (concurrent validity), validitas isi (content validity), validitas konstruk  (costruct validity)
2. Reliabel, artinya mempunyai hasil yang taat asas. Misalnya seorang guru  mengembangkan instrument tes yang diberikan kepoada sekelompok peserta didik saat ini, kemudian diberikan lagi kepada sekelompok peserta didik yang sama pada waktu berbeda ternyata hasilnya sama berarti instrument tersebut mempunyai tingkat reliabilitas yang tinggi.
 3. Relevan, artinya instrumen  yang digunakan harus sesuai dengan standar kompetensi, kempetensi dasar dan indikator yang telah ditetapkan.
4. Representatif, artinya materi instrument harus betul-betul mewakili seluruh materi yang disampaikan.
5. Praktis, artinya mudah digunakan.
6. Dekriminatif, artinya satu instrument harus disusun sedemikian rupa, sehingga dapat menunjukkan perbedaan-perbedaan yang sekecilnya Untuk itu dilakukan uji daya pembeda instrument.
7. Spesifik, artinya suatu instrument disusun dan digunakan khusus untuk obyek yang dievaluasi.
8. Proporsional, artinya suatu instrument harus  miliki tingkat kesulitan yang proporsional antara sulit, sedang dan mudah.